Analisa Sejarah Terpusat dan Analisa Sejarah Tersebar

October 31, 2009

Analisa Sejarah Terpusat
Diawali dengan menentukan sentral cerita dari suatu sumber berita yang akan dikaji (misal India Centris, Yunani-Kuno Centris, Tambo Centris, Alexander Agung Centris, Riau Centris, Jambi Centris, Kerinci Centris, Sriwijaya Centris, Majapahit Centris dan atau Melayu Centris). Analisa ini akan memusatkan setting cerita dan mengkompilasi sejarah dengan bukti-bukti yang bersesuaian dengan sentralnya, misal : sejarah majapahit, sejarah sriwijaya dll, dengan cara mencocok cocokkan tokoh-tokoh cerita. Dalam kasus Minangkabau, jika dipakai Majapahit Centris maka kita akan menemukan tokoh Dara Jingga, Dara Petak, Adityawarman, Gadjah Mada, Dewa Tuhan Perpatih dan seterusnya. Jika memakai Sriwijaya Centris kita akan menemukan Bukit Siguntang Mahameru, Dapunta Hyang, Sang Sapurbna dst. Jika memakai Jambi Centris kita akan menemukan Tribhuana Mauli Marwadewa, Pinang Masak dst. Sama halnya dengan Tambo Centris kita akan bertemu dengan Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang dst.

Kekacauan akan terjadi jika kita mulai menghubungkan sentral-sentral tersebut dan memaksakan sebuah konklusi tarikh, tokoh, ranji, silsilah dan kronologis. Contoh paling aktual adalah munculnya ranji tambo sbb:
http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau

Kira-kira metode analisa sejarah terpusat ini akan mirip dengan metode utak atik gathuk yang biasa dipakai orang Jawa.

Analisa Sejarah Tersebar
Konsep kedua, berusaha keluar dari kerangkeng sentris-sentris diatas. Ide utamanya adalah menginventarisir jejak-jejak sejarah yang bisa didapat dengan ilmu antropologi atau seni budaya. Banyak aspek yang bisa diteliti, dalam kasus saya, saya mencoba fokus masing-masing ke sistem matrilineal, konsep ketatanegaraan koto piliang bodo caniagao (yg mirip sparta-athena), konsep kepemimpinan, hasil budaya (ukiran, silek minang) dan segera menyusul lainnya. Walaupun terkesan mengambil kesimpulan terlebih dahulu namun yang saya lakukan sebenarnya adalah mencari jejak-jejak dari masing-masing aspek yang saya teliti tersebut di dunia luar (diluar Minangkabau). Hal ini saya lakukan karena jelas saya “tidak percaya dengan konsep turun dari Gunung Marapi”, namun pertanyaan saya selanjutnya kenapa konsep itu ada. Sama halnya soal tidak percayanya saya soal keturunan Iskandar Zulkarnain, namun saya membuat pertanyaan kenapa Iskandar Zulkarnain. Pada awalnya saya menebar pertanyaan-pertanyaan liar sbb :

  • Kenapa Gunung Marapi? (Kenapa bukan Gunung Kerinci, Gunung Ledang, Bukit Siguntang, Gunung Mahameru atau Gunung Semeru
  • Apakah telong nan batali itu ameh urai? (emas yang mengalir di sungai-sungai Sumatera Tengah)
  • Kenapa Harimau Campa? (Kenapa bukan Laksamana ChengHo atau Shih Huang Ti)
  • Kenapa Iskandar Zulkarnain? (Kenapa bukan Darius Agung, Nero atau Plato)
  • Kenapa Nagari? (Kenapa bukan kerajaan)
  • Kenapa Triumvirat (Rajo Tigo Selo)? Kenapa bukan raja diraja
  • Kenapa Matrilineal? Read the rest of this entry »

Periode Sejarah Minangkabau

November 20, 2008

1) 100 SM – 400 M, Periode kedatangan bangsa bangsa imigran utamanya dari Pesisir Persia Selatan (Gujarat), India Selatan (Langkapuri), India Barat Laut (Cambay-Malabar), Siam (Thailand) dan Champa (Kamboja). Hal ini dipicu dengan ditemukannya emas di Sumatera Tengah dan posisi strategis pantai barat Sumatera dalam Jalur Emas dan Jalur Sutera.

2) 400 M – 1000 M, Periode kejayaan kerajaan-kerajaan India Selatan yang memicu migrasi gelombang kedua. Imigran kali ini datang dari India Timur seperti Tamil dan sekitarnya. Pantai barat Sumatera dikuasai kerajaan-kerajaan besar yang berpusat di India Timur.

3) 1000 M – 1200 M, Periode Minangkabau Timur, konsensus dengan Kerajaan Melayu Tua Dharmasraya di hulu Batang Hari Jambi. Integrasi kebudayaan Melayu Jambi kedalam Minangkabau Kuno. Disini diprediksi sebagai awal dari Melayunisasi terhadap bahasa yang dipakai kaum Minangkabau awal yang sebenarnya adalah para imigran. Inilah cikal bakal Bahasa Minang klasik. Bahasa Melayu bangkit sebagai Lingua Franca perdagangan di Kepulauan Nusantara.

4) 1200 M – 1400 M, Periode Invasi Kebudayaan Jawa ditandai dengan Ekspedisi Pamalayu oleh Kerajaan Singasari. Serbuan-serbuan dilanjutkan oleh Majapahit kemudian. Sebagai akhir dari periode ini adalah berdirinya Kerajaan Pagaruyung dengan Adityawarman sebagai raja terbesar. Pada masa ini Kerajaan Pagaruyung Minangkabau menguasai Sumatera Tengah, Pantai Barat Sumatera Tengah dan Kawasan Hulu sungai-sungai besar yang mengalir ke Selat Malaka. Adityawarman berbapak bangsawan Singasari dan beribu bangsawan Dharmasraya. Periode Pagaruyung adalah periode multikulturalisme dengan 3 komponen utama yaitu Penduduk Minangkabau Awal (Imigran dari India Selatan, Persia, Siam dan Champa), Penduduk Dharmasraya dan Penguasa keturunan Jawa. Read the rest of this entry »


Lintasan Sejarah Minangkabau

November 20, 2008

Pengantar Sejarah Alam Minangkabau

Untuk menelusuri kapan gerangan nenek moyang orang Minangkabau itu datang ke Minangkabau, rasanya perlu dibicarakan mengenai peninggalan lama seperti megalit yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota dan tempat-tempat lain di Minangkabau yang telah berusia ribuan tahun.

A. LINTASAN SEJARAH MINANGKABAU
A.1. Pengantar

Untuk menelusuri kapan gerangan nenek moyang orang Minangkabau itu datang ke Minangkabau, rasanya perlu dibicarakan mengenai peninggalan lama seperti megalit yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota dan tempat-tempat lain di Minangkabau yang telah berusia ribuan tahun.
Di Kabupaten Lima Puluh Kota peninggalan megalit ini terdapat di Nagari Durian Tinggi, Guguk, Tiakar, Suliki Gunung Emas, Harau, Kapur IX, Pangkalan, Koto Baru, Mahat, Koto Gadan, Ranah, Sopan Gadang, Koto Tinggi, Ampang Gadang.

Seperti umumnya kebudayaan megalit lainnya berawal dari zaman batu tua dan berkembang sampai ke zaman perunggu. Kebudayaan megalit merupakan cabang kebudayaan Dongsong. Megalit seperti yang terdapat disana juga tersebar ke arah timur, juga terdapat di Nagari Aur Duri di Riau. Semenanjung Melayu, Birma dan Yunan. Jalan kebudayaan yang ditempuh oleh kebudayaan Dongsong. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa kebudayaan megalit di Kabupaten Lima Puluh Kota sezaman dengan kebudayaan Dongsong dan didukung oleh suku bangsa yang sama pula.

Menurut para ahli bahwa pendukung kebudayaan Dongsong adalah bangsa Austronesia yang dahulu bermukim di daerah Yunan, Cina Selatan. Mereka datang ke Nusantara dalam dua gelombang. Gelombang pertama pada Zaman Batu Baru (Neolitikum) yang diperkirakan pada tahun 2000 sebelum masehi. Gelombang kedua datang kira-kira pada tahun 500 SM, dan mereka inilah yang diperkirakan menjadi nenek moyang bangsa Indonesia sekarang.

Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama ke nusantara ini disebut oleh para ahli dengan bangsa Proto Melayu (Melayu Tua), yang sekarang berkembang menjadi suku bangsa Barak, Toraja, Dayak, Nias, Mentawai dan lain-lain. Mereka yang datang pada gelombang kedua disebut Deutero Melayu (Melayu Muda) yang berkembang menjadi suku bangsa Minangkabau, Jawa, Makasar, Bugis dan lain-lain.

Dari keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa nenek moyang orang Minangkabau adalah bangsa melayu muda dengan kebudayaan megalit yang mulai tersebar di Minangkabau kira-kira tahun 500 SM sampai abad pertama sebelum masehi yang dikatakan oleh Dr. Bernet Bronson. Jika pendapat ini kita hubungkan dengan apa yang diceritakan oleh Tambo mengenai asal-usul orang Minangkabau kemungkinan cerita Tambo itu ada juga kebenarannya.

Menurut sejarah Iskandar Zulkarnain Yang Agung menjadi raja Macedonia antara tahun 336-323 s.m. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur. Read the rest of this entry »


Parole Tambo dan Matetika Alam Minangkabau

November 20, 2008

Dari mana titik pelita
Dari tanglung yang berapi
Dari mana asal ninik kita
Dari puncak gunung merapi

Pisau sirauik bari hulunyo
Diasah mangko bamato
Lautan sajo dahulunyo
Mangko banamo pulau paco

Bukti yang paling tidak dapat dibantah dari fakta sejarah Minangkabau yang tertulis dalam Tambo adalah diri manusia Minang sebagai bukti yang hidup. Jika menyigi sejarah Minang dari yang tertulis secara satu pandangan saja, maka titik temu yang akan didapatkan hanyalah mitos-mitos belaka; dan bahwa sesungguhnya kesusteraan yang berkembang dalam Tambo telah menceritakan satu kebenaran. Adat istiadat adalah hasil falsafah yang gemilang sejak Sang Sapurba menjadi pelita di puncak Gunung Merapi.

Bumi Minangkabau tidak pernah terlepas dari bentuk yang dimiliki oleh kesadaran, sebuah bentuk yang essensial baginya. Semua hal berada dalam kesadaran, dan tidak dapat dibuktikan berada sebaliknya.

Perkembangan sejarah Minangkabau dalam Tambo bukanlah sebuah mitos yang hanya memiliki dua persen fakta, tapi semuanya adalah sebuah kebenaran yang baru sedikit terpecahkan. Sekarang tergantung dari sudut dan sisi mana melihatnya. Cobalah memandang Tambo secara weltanschauung yang menyeluruh dalam sebuah zetetis, tidak hanya dari segi mitologi.

Tambo sebagai revelasi falsafah alam Minangkabau dapat dikatakan sebagai sebuah ‘wahyu kodrati’ di mana Tuhan berkomunikasi melalui tanda-tanda-Nya kemudian nenek moyang orang Minang mencatatnya serupa apa yang ia lihat dan alami. Jika dihubungankan dengan teori-teori yang ada, maka Tambo akan terlihat sebagai voluntarisme epistemologis; akal budi praktis lebih unggul dari akal budi teoritis, akal budi praktis akan membawa kita kepada keyakinan metafisis yang tidak dapat dilakukan oleh akal budi teoritis.

Kembali kita mempertanyakan 98% mitos yang tertuang dalam Tambo. Apakah kesusateraan bisa dianggap mitos? “Adat yang tak lapuk kena hujan, dan yang tak lekang oleh panas adalah sebuah kenyataan bahwa tambo adalah dunia akal budi, sebuah dunia bahasa yang tidak akan pecah oleh teori logis praktis belaka.

Benar adanya apa yang ditulis oleh M. Jousta (1957) bahwa asal mula nama Minangkabau berada dalam kegelapan. Benar bahwa Sang Sapurba masih diragukan. Benar bahwa Puncak Merapi dan Pulau Paco berada dalam lingkup absurditas. Tapi kenyataannya adalah adat sebagai Zeitgeist­-nya suku bagsa Minangkabau telah menjelma menjadi falsafah dan akal budi yang diamalkan.

Titik balik terdekat untuk melihat kembali yang paling memungkinkan adalah swarnadwipa di katulistiwa ini, ketika Dapunta Hyang menjadi tokoh Sang Sapurba (abad I—kedatangannya terdapat dalam Prasati Kedukan Bukit dan dalam Kitab Ramayana karya penyair India, Walmiki). Dalam Kitab Sejarah Melayu (Tun Sri Lanang; 1621) tertulis—sebagaimana Read the rest of this entry »


Bundo Kanduang Nan Mangirok ka Langik

November 19, 2008

Dalam mencermati tambo, hal yang perlu sekali kita perhatikan adalah karakter

dari bahasa tambo itu dan karakter bangsa penulisnya sendiri.Ini mirip
metodologinya dengan belajar bahasa Arab untuk memahami alquran dan hadist.
Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.

OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang terbiasa
menggunakan kiasan, perumpamaan dan analogi. Ini telah saya ulas pada frase
bugih lamo = kain lama = bekas istri = janda
Selain itu kalau anda perhatikan di tambo, ada gelar-gelar seperti Kucing
Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Mualim yang sebenarnya manusia
juga.
Untuk menterjemahkan kiasan, salah satu metode yang dipakai adalah mencari
frase yang menggunkan kosakata yang sama dengan kalimat yang akan ditafsirkan.
Kemungkinan perbedaan tafsiran pasti ada, namun tidaklah akan terlalu besar
penyimpangan artinya.
OK, sekarang saya cuplikkan dua buah kasus.

1. “Sajak gunuang marapi sagadang talua itiak”
(Sejak gunung marapi sebesar telur itik)
Ini maksudnya adalah gunung marapi yang terlihat masih jauh dari tengah laut
(dari atas kapal), yang dilihat oleh para imigran pertama nenek moyang orang
Minang yang diperkirakan datang dari sekitar India Selatan dan Langgapuri
(Ceylon/Srilanka)

2. “Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu mangorok kelangit”
(Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu menghilang/terbang/moksa
kelangit)
Kalimat ini ditemukan dalam Kaba Cindua Mato. Bisa dibaca dahulu di link ini.

Pertama sekali lihat konteks cerita.
Pada saat itu Ranah Pagaruyung akan ditaklukkan oleh Tiang Bungkuak (Raja
Sungai Ngiang) di rantau timur (perkiraan saya Jambi/Hilir sungai Batang
Hari/Kerajaan Melayu Kuno). Pagaruyung cuma tinggal menunggu kalah saja karena
tidak punya tentara. Bahkan sebelum negeri ditaklukkan Dang Tuanku telah
menceritakan mimpinya bahwa dia sekeluarga tidak akan lama lagi ada didunia.
<kutipan> Read the rest of this entry »