Analisa Sejarah Terpusat
Diawali dengan menentukan sentral cerita dari suatu sumber berita yang akan dikaji (misal India Centris, Yunani-Kuno Centris, Tambo Centris, Alexander Agung Centris, Riau Centris, Jambi Centris, Kerinci Centris, Sriwijaya Centris, Majapahit Centris dan atau Melayu Centris). Analisa ini akan memusatkan setting cerita dan mengkompilasi sejarah dengan bukti-bukti yang bersesuaian dengan sentralnya, misal : sejarah majapahit, sejarah sriwijaya dll, dengan cara mencocok cocokkan tokoh-tokoh cerita. Dalam kasus Minangkabau, jika dipakai Majapahit Centris maka kita akan menemukan tokoh Dara Jingga, Dara Petak, Adityawarman, Gadjah Mada, Dewa Tuhan Perpatih dan seterusnya. Jika memakai Sriwijaya Centris kita akan menemukan Bukit Siguntang Mahameru, Dapunta Hyang, Sang Sapurbna dst. Jika memakai Jambi Centris kita akan menemukan Tribhuana Mauli Marwadewa, Pinang Masak dst. Sama halnya dengan Tambo Centris kita akan bertemu dengan Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang dst.
Kekacauan akan terjadi jika kita mulai menghubungkan sentral-sentral tersebut dan memaksakan sebuah konklusi tarikh, tokoh, ranji, silsilah dan kronologis. Contoh paling aktual adalah munculnya ranji tambo sbb:
http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau
Kira-kira metode analisa sejarah terpusat ini akan mirip dengan metode utak atik gathuk yang biasa dipakai orang Jawa.
Analisa Sejarah Tersebar
Konsep kedua, berusaha keluar dari kerangkeng sentris-sentris diatas. Ide utamanya adalah menginventarisir jejak-jejak sejarah yang bisa didapat dengan ilmu antropologi atau seni budaya. Banyak aspek yang bisa diteliti, dalam kasus saya, saya mencoba fokus masing-masing ke sistem matrilineal, konsep ketatanegaraan koto piliang bodo caniagao (yg mirip sparta-athena), konsep kepemimpinan, hasil budaya (ukiran, silek minang) dan segera menyusul lainnya. Walaupun terkesan mengambil kesimpulan terlebih dahulu namun yang saya lakukan sebenarnya adalah mencari jejak-jejak dari masing-masing aspek yang saya teliti tersebut di dunia luar (diluar Minangkabau). Hal ini saya lakukan karena jelas saya “tidak percaya dengan konsep turun dari Gunung Marapi”, namun pertanyaan saya selanjutnya kenapa konsep itu ada. Sama halnya soal tidak percayanya saya soal keturunan Iskandar Zulkarnain, namun saya membuat pertanyaan kenapa Iskandar Zulkarnain. Pada awalnya saya menebar pertanyaan-pertanyaan liar sbb :
- Kenapa Gunung Marapi? (Kenapa bukan Gunung Kerinci, Gunung Ledang, Bukit Siguntang, Gunung Mahameru atau Gunung Semeru
- Apakah telong nan batali itu ameh urai? (emas yang mengalir di sungai-sungai Sumatera Tengah)
- Kenapa Harimau Campa? (Kenapa bukan Laksamana ChengHo atau Shih Huang Ti)
- Kenapa Iskandar Zulkarnain? (Kenapa bukan Darius Agung, Nero atau Plato)
- Kenapa Nagari? (Kenapa bukan kerajaan)
- Kenapa Triumvirat (Rajo Tigo Selo)? Kenapa bukan raja diraja
- Kenapa Matrilineal? Read the rest of this entry »
Posted by Fadli
Posted by Fadli
Posted by Fadli 




